Featured Post

Rain Makes Everything Better

Seminggu terakhir ini benar-benar migrain melanda. Mau apa-apa jadi serba salah. Lalu kuteringat bagaimana hujan mampu membuat segalanya...

Home » » Sepasang Cangkir Teh Sore Hari, Aku dan Ibu di Beranda

Sepasang Cangkir Teh Sore Hari, Aku dan Ibu di Beranda

secangkir teh
Ibu,
Bila derum motor pak pos menyapa
Itu pasti ada kabar untukku
Untuk Ibu
Untuk kita

Biasanya aku akan membacakannya untuk Ibu
Bila itu dari Kakanda
Namun tak jarang Ibu lakukan sendiri
Dengan menggunakan kaca mata baca
yang meski usang tapi sangat berharga
Dan bila Ibu tersenyum (akan isi surat itu)
Ada kebahagiaan yang turut mengaliri 
anak - anak sungai di hatiku
Kebahagiaan yang sukar aku ungkapkan sebesar apa


Lalu bila itu dari sahabat penaku
Akan kubacakan juga untuk Ibu
Sepanjang aku merasa isinya dapat membuat Ibu tersenyum
Ibu ingat kan, dengan Indra Kencana di Jakarta
yang dulu ingin kuliah di sini di kota kecil ini?
Hal yang semula lucu bagiku
Sebab tiadalah PTN maupun PTS di sini
Tapi setelahnya akupun berpikir
Apa gerangan yang membuatnya berniat demikian?
Tentulah karena persahabatan kami yang sedemikian eratnya
Memang bila kita menjalin persahabatan dengan seseorang yang jauh
Keinginan untuk berjumpa itu selalu ada

Lalu Saiful Johansyah di Kota Pelajar Yogyakarta
Yang menyebut Yunda di depan namaku
yang karenanya aku merasa demikian terhormat
Padahal usianya empat tahun mendahuluiku
Nah, kalau dengan yang satu ini
Aku tak hanya merasakan simpul persahabatan tapi juga persaudaraan
Dan karenanyalah aku menyebut Kanda di depan nama dirinya
Seperti yang biasa aku lakukan pada Kakanda Rudi Satyawan
Sebagai tanda akupun menghormatinya

Oh ya, Ibu
Aku tak ingin melupakan Gerald Horne di London
yang usianya sudah kepala lima itu
Lalu Farid Ahmad di USA
Filss cs di Manado
Amy di Bekasi
Djoko yang jauh di Pulau Kepala Burung
Jerry yang nyong Ambon tapi tinggal di Dilli
Ah... Masih banyak lagi yang belum kusebutkan
Aku khawatir tak akan selesai-selesai puisi ini bila terus dan terus kulanjutkan
Pun tak ingin yang membaca puisiku ngedumel tak tentu arah nantinya
Cukuplah beberapa saja yang mewakili
Betapa aku adalah bukti ke sekian yang merasakan bahwa
persahabatan itu indah mesra
(Semoga para pembaca yang sebelumnya tidak menyukai dunia korespondensi
dapat berubah seratus delapan puluh derajat!)

Puisi ini pernah dimuat di majalah Sahabat Pena No. 339 Tahun 2000
Kutemukan di antara kumpulan file-file lama :)

Share this article :

14 komentar:

  1. sahabat pena...pernah mengalami masa keemasan, namun kemudian mengalami masa surut saat SMS mulai populer...namun bagi penikmat korespondensi...sahabat pena tidak ada matinya :)

    ReplyDelete
  2. update juga ya :D | si bookmark saja dulu ah

    ReplyDelete
  3. Ah, jadi ingat banget dulu sering nulis surat....tapi jarang dibales T_T

    ReplyDelete
  4. kira2 kaze bisa sampe dimuat gk ya? -__- ini aja hasil copas kebanyakanya mah, kecuali sekarang2 lirik http://www.kaze-kate.net/

    ReplyDelete
  5. @BlogS of Hariyanto Iya, mas. Kadang saya masih suka nerima surat dari luar untuk korespondensi dan juga barteran koleksi. Rasanya ngga percaya juga di zaman teknologi gini. Soalnya teman2 pena saya dulu udah nyambung lewat facebook dan hape hehe

    ReplyDelete
  6. @Mayya Itulah duka dunia korespondensi, May. hahaha... Udah kita nulis eh ngga dibalas. Aku sering juga ngalamin itu, khususnya cewek.

    ReplyDelete
  7. @Kaze Kate Kaze mah kagak bisa dimuat, kegedean soalnya hehehe
    Karyanya yang bisa :)

    ReplyDelete
  8. wah jadi ingat jaman smp tentang sahabat pena. keren, tapi sepertinya yang nulis ini orang hebat ya, banyak pengalaman yang di ungkap.

    ReplyDelete
  9. @cerita anak kost Hebat? Aku doong.. Kan ini puisi aku yang nulis hehehe
    Tapi aku ngga sehebat itu kok. Ini pengalaman masa2 korespondensiku aja, Za. *Ah jadi terkenang nih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehh, ya berarti emang si mbanya hebat. angkat topi untuk mba. hehehe, lagi sibuk bisnis ya mba, sampe yang ini jadi lupa.

      Delete
  10. sudah lama gak mampir ke blog ini, ternyata, Mba liza teteup konsisten dgn catatan kesehariannya, hehehe

    ReplyDelete
  11. @Julak Sourie Hi, Julak. Thanks udah mampir ya...
    yah, kan memang begitu style blog ini hehe.. Lagian belum ada ilmu baru yang bisa dishare :)

    ReplyDelete

Bebas komentar apa aja, asal sopan.
Tapi jangan nyepam. Ntar dihapus lho!

 
Copyright © 2013. Together We Share - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger